Lompat ke isi utama

Berita

Hadapi Disinformasi di Era AI, Pujawan Ajak Pelajar Jadi Pemilih Cerdas

Hadapi Disinformasi di Era AI, Pujawan Ajak Pelajar Jadi Pemilih Cerdas

Hadapi Disinformasi di Era AI, Pujawan Ajak Pelajar Jadi Pemilih Cerdas

Bangli, Bawaslu Bangli – Menghadapi disinformasi di tengah perkembangan kecerdasan buatan (AI), pelajar sebagai pemilih pemula perlu berpikir kritis dan bijak bermedia sosial. Kemampuan menyaring serta memastikan kebenaran informasi menjadi bekal penting agar tidak mudah terpengaruh maupun turut menyebarkan informasi keliru. Hal tersebut disampaikan Anggota Bawaslu Kabupaten Bangli, Putu Gede Pertama Pujawan, saat menjadi narasumber dalam kegiatan Pendidikan Politik bertema “Membangun Pemilih yang Cerdas, Kritis, dan Berintegritas untuk Demokrasi Berkualitas” di SMK Negeri 3 Bangli, Rabu (16/9/2026).

Dalam kegiatan tersebut, Pujawan menekankan pentingnya peran pelajar sebagai pemilih pemula dalam pengawasan partisipatif. Menurutnya, menjaga kualitas demokrasi bukan hanya menjadi tanggung jawab penyelenggara pemilu, tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat, termasuk dalam menghadapi penyebaran informasi di ruang digital.

“Pemilih yang cerdas tidak hanya menggunakan hak pilihnya, tetapi juga mampu menyaring informasi dan berpikir kritis. Kita harus bisa membedakan mana informasi yang benar, mana misinformasi, dan mana disinformasi, sehingga tidak ikut menyebarkan informasi yang keliru atau sengaja menyesatkan,” ujar Pujawan.

Ia juga mengingatkan pelajar agar semakin waspada terhadap penyebaran hoaks di media sosial, terlebih dengan perkembangan AI yang semakin memudahkan pembuatan dan penyebaran berbagai jenis konten. Kondisi tersebut menuntut masyarakat untuk tidak mudah percaya terhadap informasi hanya karena terlihat meyakinkan.

“Di era AI, kita harus semakin kritis. Misinformasi bisa terjadi karena informasi yang salah dibagikan tanpa mengetahui bahwa informasi itu keliru, sementara disinformasi dapat dibuat atau disebarkan dengan tujuan menyesatkan. Karena itu, cek sumbernya, pahami konteksnya, dan pastikan kebenarannya sebelum membagikan,” tegas Pujawan.

Menurutnya, kemampuan memilah informasi merupakan bagian dari pengawasan partisipatif. Media sosial perlu dimanfaatkan sebagai ruang untuk membangun partisipasi positif, bukan menjadi sarana penyebaran hoaks, provokasi, maupun informasi yang dapat memecah belah masyarakat.

Pujawan berharap pendidikan politik bagi pemilih pemula dapat menumbuhkan kesadaran generasi muda untuk menggunakan hak pilih secara bertanggung jawab, berpikir kritis dalam menerima informasi, serta turut mengawal kualitas demokrasi melalui pengawasan partisipatif.