Lompat ke isi utama

Berita

Hoaks Ancam Demokrasi, Generasi Muda Harus Jadi Pemilih Cerdas

Hoaks Ancam Demokrasi, Generasi Muda Harus Jadi Pemilih Cerdas

Hoaks Ancam Demokrasi, Generasi Muda Harus Jadi Pemilih Cerdas

Bangli, Bawaslu Bangli – Hoaks dan disinformasi menjadi ancaman nyata bagi kualitas demokrasi. Oleh karena itu, generasi muda harus menjadi pemilih yang cerdas, kritis, dan bijak dalam menyaring setiap informasi yang diterima. Hal tersebut ditegaskan Koordinator Divisi Hukum, Pencegahan, Partisipasi Masyarakat, dan Humas (HP2H) Bawaslu Kabupaten Bangli, Putu Gede Pertama Pujawan, saat memberikan edukasi kepemiluan dan pengawasan partisipatif kepada siswa baru dalam kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMK Negeri 1 Tembuku, Kamis (16/7/2026).

Dalam pemaparannya, Pujawan memperkenalkan tugas dan kewenangan Bawaslu sebagai lembaga yang bertanggung jawab mengawasi seluruh tahapan penyelenggaraan pemilu. Ia juga menjelaskan secara singkat perkembangan pengawasan pemilu di Indonesia, mulai dari Panitia Pengawas Pelaksanaan Pemilu (Panwaslak), Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu), hingga terbentuknya Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) sebagai lembaga permanen yang memiliki peran strategis dalam menjaga integritas demokrasi.

Menurut Pujawan, pengawasan merupakan salah satu pilar penting dalam penyelenggaraan pemilu yang demokratis. Tanpa pengawasan yang efektif, berbagai bentuk pelanggaran, penyebaran informasi menyesatkan, hingga upaya memengaruhi pilihan masyarakat melalui hoaks berpotensi merusak kualitas demokrasi. Karena itu, Bawaslu terus berupaya memastikan setiap tahapan pemilu berjalan secara jujur, adil, transparan, dan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Ia menjelaskan bahwa di era digital, arus informasi yang begitu cepat menuntut masyarakat, khususnya generasi muda, untuk memiliki kemampuan memilah dan memverifikasi informasi sebelum mempercayai maupun menyebarkannya. Menurutnya, sikap kritis terhadap informasi menjadi bekal penting agar masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh berita bohong yang dapat memecah persatuan maupun memengaruhi proses demokrasi.

Selain itu, Pujawan menekankan bahwa keberhasilan pengawasan pemilu tidak hanya menjadi tanggung jawab Bawaslu. Keterlibatan masyarakat melalui pengawasan partisipatif menjadi faktor penting dalam mencegah dan mendeteksi berbagai potensi pelanggaran. Ia mengajak para pelajar untuk mulai menumbuhkan kepedulian terhadap proses demokrasi dan tidak ragu melaporkan kepada Bawaslu apabila menemukan dugaan pelanggaran pemilu di kemudian hari.

"Hoaks dapat memengaruhi cara pandang masyarakat dalam menentukan pilihan. Karena itu, jangan mudah percaya pada setiap informasi yang beredar. Biasakan melakukan verifikasi, berpikir kritis, dan gunakan hak pilih secara bertanggung jawab. Generasi muda harus menjadi bagian dari solusi dalam menjaga demokrasi yang sehat," tegas Pujawan.

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa sebagian besar peserta MPLS akan menjadi pemilih pada pelaksanaan pemilu mendatang. Oleh sebab itu, mereka diharapkan memilih berdasarkan rekam jejak, integritas, kapasitas, serta visi dan program yang ditawarkan para calon, bukan karena politik uang, hoaks, maupun informasi yang menyesatkan.

 

Melalui kegiatan edukasi ini, Bawaslu Kabupaten Bangli berharap para siswa SMK Negeri 1 Tembuku memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai demokrasi, bahaya hoaks, dan pentingnya pengawasan partisipatif. Dengan demikian, generasi muda diharapkan tumbuh menjadi pemilih yang cerdas, bijak dalam bermedia digital, serta aktif menjaga integritas pemilu demi terwujudnya demokrasi yang jujur, adil, dan bermartabat.