Dari Gurukula, Pujawan Perkuat Literasi Digital dan Kesadaran Demokrasi Generasi Muda
|
Bangli, Bawaslu Bangli – Menanamkan kesadaran demokrasi sejak dini menjadi langkah penting dalam menyiapkan generasi muda yang cerdas dan bertanggung jawab. Hal tersebut didorong Anggota Bawaslu Kabupaten Bangli, Putu Gede Pertama Pujawan, melalui konsolidasi pengawasan partisipatif bersama Yayasan Gurukula Bangli, Jumat (14/8/2026).
Konsolidasi yang diterima langsung Pengurus Yayasan Gurukula Bangli, I Nyoman Arimbawa, tersebut menyoroti pentingnya penguatan literasi digital, pencegahan hoaks, fasilitasi hak pilih pemilih pemula, serta menjaga netralitas lingkungan pendidikan.
Dalam konsolidasi tersebut, Pujawan menekankan pentingnya memastikan siswa yang telah atau akan berusia 17 tahun dapat menggunakan hak pilihnya. Mengingat sebagian siswa berasal dari luar wilayah domisili yayasan, pihak yayasan didorong melakukan pendataan serta berkoordinasi terkait fasilitasi kepemiluan, termasuk mekanisme pindah memilih apabila diperlukan.
“Yang perlu kita pastikan adalah jangan sampai siswa yang sudah memiliki hak pilih justru tidak dapat menggunakan haknya karena persoalan administrasi maupun keberadaan mereka di asrama. Karena itu, perlu ada koordinasi sejak awal agar hak pilih mereka dapat difasilitasi,” ujar Pujawan.
Selain pemilih pemula, Pujawan juga mengingatkan pentingnya literasi digital bagi siswa. Menurutnya, generasi muda sangat aktif menggunakan media sosial sehingga perlu memiliki kemampuan menyaring dan memverifikasi informasi, terutama informasi kepemiluan.
“Siswa perlu dibekali pemahaman untuk melakukan verifikasi sebelum mempercayai dan membagikan sebuah informasi. Saring sebelum sharing menjadi hal sederhana, tetapi sangat penting untuk mencegah hoaks dan informasi yang dapat memecah belah,” jelasnya.
Pujawan berharap guru dan pengelola yayasan turut menanamkan etika bermedia sosial kepada siswa sehingga mereka dapat menjadi agen perubahan yang menyebarkan informasi positif dan menyejukkan.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga netralitas lingkungan pendidikan dari politik praktis. Fasilitas maupun lingkungan yayasan diharapkan tidak digunakan untuk kepentingan politik tertentu, termasuk pengarahan pilihan politik kepada siswa.
“Lingkungan pendidikan harus menjadi ruang yang memberikan kebebasan kepada siswa untuk berpikir dan menentukan pilihan politiknya secara mandiri, rasional, dan rahasia. Jangan sampai ada tekanan atau pengarahan dari pihak mana pun,” tegasnya.
Pengurus Yayasan Gurukula Bangli, I Nyoman Arimbawa, menyambut baik konsolidasi yang dilakukan Bawaslu Bangli. Ia menyatakan pihak yayasan siap mendukung edukasi kepemiluan kepada siswa, mendorong penggunaan hak pilih, serta menjaga lingkungan pendidikan tetap netral dan kondusif.
“Kami menyambut baik konsolidasi ini sebagai langkah bersama untuk membangun kesadaran demokrasi di kalangan siswa. Yayasan siap mendukung edukasi kepemiluan, mendorong siswa menggunakan hak pilihnya, bijak bermedia sosial, serta bersama-sama menjaga lingkungan pendidikan tetap netral dan kondusif,” ujar Arimbawa.
Menutup konsolidasi, Pujawan berharap sinergi antara Bawaslu Bangli dan Yayasan Gurukula dapat terus diperkuat. Ia mengajak seluruh pihak bersama-sama menciptakan lingkungan pendidikan yang bebas dari politik praktis sekaligus mendorong pendidikan politik yang etis dan bertanggung jawab bagi generasi muda.
Ia juga mengingatkan siswa yang telah maupun akan berusia 17 tahun agar tidak melewatkan kesempatan untuk menggunakan hak pilihnya pada pemilihan mendatang sebagai bagian dari tanggung jawab dalam kehidupan berdemokrasi.